Selasa, 20 November 2018

Islam di dunia remaja

Islam di mata remaja sekarang mungkin hanya sebuah agama yang mewajibkan mereka untuk sholat, puasa, zakat, dan naik haji. Namun ternyata, Islam tidak hanya sebatas hal itu. Islam juga mengajarkan tata cara kehipuan bergaul dengan laki-laki, mengatur bagaimana cara muslimah dalam berpakaian, mengatur tentang perilaku kita terhadap orang tua dan sebagainya. Tapi, pada kenyataanya hal itu jauh dari realisasi. Kalangan remaja masa sekarang bukan menganggap islam sebagai jiwanya, batinnya atau qalbunya sendiri secara sadar atas apa yang akan dipertanggung-jawabkan di akhirat nanti.


Dalam hal ini aqidah menjadi peran penting dalam pembentukan suatu remaja islam. Aqidah sendiri terdiri dari 3 unsur yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Lalu kaitannya dalam permasalahan yang sedang kita hadapi ini adalah bahwasnya apabila remaja-remaja Islam yang akan meregenerasi kaum sebelumnya dibekali, ditanamkan, dan diajarkan sedari kecil tentang apa itu makna Iman, Islam, dan Ihsan dengan lingkungan yang mendukung dan kondusif untuk melahirkan generasi-generasi tersebut, maka Insya Allah para remaja Islam masa sekarang tidak hanya menganggap Islam sebagi agama yang “mengekang” mereka melainkan pedoman hidup dan mati mereka yang akan dipertanggung-jawabkan kelak.


Seperti dalam hadist Rasulullah SAW bersabda “Orang Mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya” (HR. Ahmad). Dalam hal ini menunjukkan bahwa akhlak adalah tolok-ukur dari iman seseorang. Remaja yang beriman adalah yang berakhlak baik. Nah, masa sekarang adalah masa yang krisis akhlak. Dalam artian sulit sekali mencari remaja-remaja yang berakhlak baik. Kebanyakan remaja sekarang tidak mau berkiblat pada Rasulullah SAW, melainkan kepada idola-idola mereka seperti band-band terkenal, artis sinetron, dan lain sebagainya. Itu menunjukkan bahwa iman mereka kepada Nabi Besar Muhammad SAW mulai memudar. Padahal Rasulullah lebih memiliki andil yang lebih besar dalam kehidupan Islam dibandingkan idola mereka tersebut.


Inilah permasalahan yang sekarang dihadapi oleh para remaja Islam saat ini . Mereka menganggap Islam sepele, sebatas agama. Solusinya adalah bagaimana kita sebagai umat Islam yang sama-sama belajar untuk menuju ridho Allah, mengajak mereka untuk selalu ingat pada Yang Maha Menciptakan mereka, mengingatkan mereka untuk bagaimana adab kepada lawan jenis, orang tua maupun yang lainnya. Insya Allah dalam keikhlasan untuk senantiasa dakwah dan Jihad Fi Sabilillah, kita dapat bersama-sama menuju ridhoNya. Seperti dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim “Barang siapa diantaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin hendaklah berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, hendaklah mngingkari dengan hatinya ( tinggalkan). Itulah selemah-lemahnya Iman.”. Akhir kata, manusia hanya bisa berusaha dan bertawakal, semua kembali pada taufik dan hidahNya pada diri setiap mu’min.

Selasa, 13 November 2018

Kisah Sukses Ibnu Riyanto, Pengusaha Batik yang Masuk Rekor MURI

Namanya Ibnu Riyanto asal Cirebon, Jawa Barat. Usianya belum menginjak 30 tahun, namun sudah cukup sukses sebagai pengusaha batik. Keberhasilan Ibnu dibuktikan dengan berbagai penghargaan dan pencapaian usaha batik yang dimilikinya.

Salah satu penghargaan yang sangat berkesan berasal dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai pemilik toko batik terbesar dan terluas pada usia termuda (23 tahun).

Meski sudah meraih kesuksesan di usia muda, Ibnu tak langsung besar kepala. "Saya tidak mau seperti dinosaurus, ketika sudah besar kemudian punah," ungkapnya saat ditemui team Berita BCA belum lama ini di toko Batik Trusmi, Desa Trusmi, Plered, Cirebon.

Bagi Ibnu, usia muda adalah kesempatan untuk terus melakukan eksplorasi kemampuan diri dan semakin tertantang untuk meraih yang belum bisa dicapainya.

"Mumpung masih muda dan masih cukup banyak energi, saya akan terus mengembangkan diri. Saya memang tipe orang yang  tidak mudah puas dengan apapun yang sudah saya capai," kata Ibnu.
Meski berasal dari keluarga pembatik, Ibnu membangun usahanya sendiri benar-benar dari nol. Ibnu mulai merintis usaha tahun 2006 ketika usianya 17 tahun dengan menjadi suplier kain mori yakni bahan baku batik berupa kain putih.

Dengan modal awal Rp 15 juta, Ibnu menawarkan kain mori ke perajin-perajin batik di desa kelahirannya, Trusmi Kabupaten Cirebon.

"Dulu saya bandel. Lulus SMA saya langsung menikah. Saya ingin membuktikan kepada orang tua kalau saya mampu mandiri. Begitu punya tanggungan istri, saya jadi bersemangat untuk memulai usaha sendiri. Saat itulah, pertama kali saya menjadi nasabah bank ya BCA," katanya.

Keuntungan menjadi suplier kain mori hanya cukup untuk kebutuhan keluarganya sehari-hari, tidak lebih dan tidak kurang. Setelah mempunyai anak, Ibnu merasa harus bisa meningkatkan usahanya untuk menghidupi keluarga kecilnya.

Memanfaatkan ruang tamu rumah orang tuanya yang berukuran 4 x 4 meter persegi di tahun 2007, Ibnu yang memiliki 2 anak ini pun mulai menjual batik. Tak berhenti di "toko" saja, Ibnu pun gigih memasarkan batik dagangannya secara door to door dari satu toko ke toko yang lain di Jakarta, Bandung dan kota-kota lain.

>>>Selanjutnya perjalanan Ibnu melebarkan usahanya

Ketika memasarkan batik dagangannya, tak jarang Ibnu harus tidur di masjid demi mengirit uang yang harus diputarnya untuk mengembangkan usaha. Ya, meraih sukses memang tak semudah membalikkan tangan butuh perjuangan dan pengorbanan.

Beruntung satu toko di salah satu pusat perbelanjaan teramai di Jakarta mau membayar lunas dagangannya sebesar Rp25 juta. Pencapaian itu membuatnya semakin bersemangat dan percaya diri hingga semakin ulet memasarkan batiknya.

Seiring dengan semakin laris dagangan batiknya, Ibnu pun membuka usaha konveksi sendiri dan berkat ketekunannya, Ibnu mampu membuka toko batik yang diberinya nama Batik Trusmi mengikuti nama desa penghasil batik ternama di Cirebon. Usahanya membangun bisnis akhirnya mendapat penghargaan rekor MURI pada 25 Maret 2013 lalu.

Sebagai pengusaha, Ibnu memiliki pesan kepada masyarakat diseluruh Indonesia bahwa kalau usaha ingin berkembang manajemen yang profesional saja tidak cukup.

"Tapi juga diperlukan kerja keras dan kemauan untuk maju serta berani mengambil resiko. Dan tentu saja, rasa selalu ingin mencapai yang lebih lagi," papar Ibnu.

Saat ini Ibnu mampu menghidupi setidaknya 500 orang karyawan dan membuka kesempatan bagi sedikitnya 50 perajin batik rumahan untuk memasarkan batik di toko miliknya.

Ibnu Riyanto bukan hanya dikenal sebagai pemilik toko "Pusat Grosir Batik Trusmi" dengan luas hampir 9.000 meter persegi di atas tanah seluas 12.000 meter persegi.

Tapi Ibnu juga membuka gerai batik untuk kelas menengah ke atas yang diberi nama "Pesona Batik", sebuah gerai batik memadukan seni budaya dan keindahan gedung peninggalan sejarah. Pesona Batik ini pun diresmikan oleh Wak

Kisah sukses Lizzie Parra, dari modal minim hingga punya produk kecantikan sendiri


Nama Lizzie Parra mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan perempuan pecinta produk kecantikan. Mengawali karir sebagai makeup artist, Lizzie semakin dikenal sebagai influencer di dunia kecantikan dan kini menjadi pemilik brand produk kosmetik yang dikenal dengan By Lizzie Parra (BLP).
Tidak mudah bagi perempuan berusia 31 tahun ini mencuri kesuksesannya. Selama lima tahun, dia mengawali karirnya dengan mimpi besar yakni dengan membuat brand sendiri. Bahkan, dia sempat memiliki kekhawatiran dengan modal yang minim. Akan tetapi, dia terus berusaha dalam mewujudkan mimpinya itu.
"Jadi sebenarnya saya sudah memiliki mimpi untuk membuat brand sendiri, sekitar lima tahun lalu. Cuma sama seperti pebisnis dengan skala kecil, aduh punya modal gak yah, aduh bisa gak ya, itu terbesit untuk program yang istilahnya skalanya kecil sperti BLP. Cuma saya berpikir lagi kalau misalnya saya terlalu takut kapan saya bisa mewujudkan mimpinya," ujarnya kepada merdeka.com di Jakarta  belum lama ini.
Perempuan yang memiliki latar belakang di bidang fesyen ini sempat bekerja selama dua setengah tahun di Product executive Yves Saint Laurent lada L'Oreal Indonesia. Kemudian, dia memutuskan meninggalkan pekerjaan tersebut lantaran ingin keluar dari zona nyamannya. Kemudian di tahun 2015, Lizzie memutuskan lebih fokus dan serius dalam mengembangkan brand produk lokalnya.
"Jadi pada saat pertama kali 2015 saya memutuskan, oke kayaknya saya harus serius nih. Kebetulan backround saya itu lulus dari sekolah bisnis fashion model, kemudian saya lulus terus saya bekerja selama dua tahun di perusahaan multinasional company kosmetik juga, dan saya juga sempat keluar. Jadi sebenarnya dunia industri komestik saya sudah cukup banyak mencicipi ladangnya ya," jelas Lizzie.
Menjadi seorang makeup artist saja, tidak cukup baginya. Keputusan dia untuk membuka industri di bidang kecantikan diambil sebab dirinya ingin berkontribusi banyak untuk Indonesia. Apalagi, sebagai perempuan muda, dia ingin memberikan gambaran kepada pemuda-pemdudi lainnya untuk tidak takut memiliki mimpi yang besar.
"Dunia saya memang fesyen itu. Kemudian tahun 2015 itu saya berpikir harus bisa memberi kontribusi kepada negara ini, kalau saya makeup artist saja berarti saya hanya memberikan daftar untuk orang yang saya makeup-in saja. Istilahnya saya ingin lebih bisa berkontribusi untuk negara ini, kok kayaknya itu panggilan saya ingin menyebarkan positif energi yang saya punya untuk orang-orang di sekitar saya," jelas dia.
Dengan mengandalkan proposal dan modal yang kecil, tak mengurangi semangat Lizzie. Baginya, bisnis itu bukan sekadar sebagai gambling. Tetapi lebih dari itu, dia memaknai bisnis sebagai sebuah planning. Di mana, sebagai pelaku usaha kecil seperti dirinya, sebuah planning akan menghantarkan kesuksesan.
"Saya dengan modal yang sangat kecil, hanya modal dari keluarga saya. Saya buat proposal dan saat itu saya bilang ke orang tua saya ingin bisnis, proposalnya seperti ini. Jadi kesalahan orang orang yang berbisnis kecil itu adalah banyak yang menganggap bisnis itu adalah gambling buat saya bisnis itu bukan gambling buat saya bisnis itu planning," imbuhnya.
"Jadi pertama saya kali mencetuskan ide untuk membuat bisnis saya membuat planningnya dulu. bagaimana kira kira kita bertahan lama dengan modal segitu, kapasitas produksinya dengan modal segitu berapa dan memang itu saya menghitung benaran termasuk juga dengan branding," sambungnya.
Selain planning, lanjut dia para pelaku industri kecil juga harus memahami betul sebuah branding. Sebab dikatakan Lizzie, kekuatan dari sebuah produk yang akan dijual adalah ditentukan dari branding.
"Banyak sekali industri kecil yang menengah yang tidak terlalu memikirkan branding. Mereka hanya mengambil barang dari luar